Minggu, 10 Oktober 2010

Pembuatan Natrium Tiosulfat

Natrium Tiosulfat
I. Natrium Tiosulfat
Berupa hablur besar, tidak berwarna, atau serbuk hablur kasar.Mengkilap dalam udara lembab dan mekar dalam udara kering pada suhu lebih dari 33°C. Larutannya netral atau basa lemah terhadap lakmus. Sangat mudah larut dalam air dan tidak larut dalam etanol Sodium tiosulfat merupakan donor sulfur yang mengkonversi sianida menjadi bentuk yang lebih nontoksik, tiosianat, dengan enzyme sulfurtransferase,
yaitu rhodanase. Tidak seperti nitrit, tiosianat merupakan senyawa nontoksik, dan dapat diberikan secara empiris pada keracunan sianida. Penelitian dengan hewan uji menunjukkan kemampuan sebagai antidot yang lebih baik bila dikombinasikan dengan hidroksokobalamin.. Rute utama detoksifikasi sianida dalam tubuh adalah mengubahnya menjadi tiosianat oleh rhodanase, walaupun sulfurtransferase yang lain, seperti 37 beta-merkaptopiruvat sulfurtransferase, dapat juga digunakan.
Reaksi ini memerlukan sumber sulfan sulfur, tetapi penyedia substansi ini tebatas.Keracunan sianida merupakan proses mitokondrial dan penyaluran intravena sulfur hanya akan masuk ka mitokondria secara perlahan. Natrium tiosulfat mungkin muncul sendiri pada kasus keparahan ringan sampai sedang, sebaiknya
diberikan bersama antidot lain dalam kasus keracunan parah. Ini juga merupakan pilihan antidot saat diagnosis intoksikasi sianida tidak terjadi, misalnya pada kasus penghirupan asap rokok. Natrium tiosulfat diasumsikan secara intrinsik nontoksik tetapi produk detoksifikasi yang dibentuk dari sianida, tiosianat dapat
menyebabkan toksisitas pada pasien dengan kerusakan ginjal. Pemberian natrium tiosulfat 12.5 g i.v. biasanya diberikan secara empirik jika diagnosis tidak jelas
Natrium tiosulfat merupakan komponen kedua dari antidot sianida.Antidot ini diberikan sebanyak 50 ml dalam 25 % larutan. Tidak ada efek samping yang ditimbulkan oleh tiosulfat, namun tiosianat memberikan efek samping seperti gagal ginjal, nyeri perut, mual, kemerahan dan disfungsi pada SSP. Dosis untuk anak-anak didasarkan pada berat badan
1. Indikasi
a. Dapat diberikan sendiri ataupun dikombinasikan dengan nitrit atau
hidroksokobalin pada pasien keracunan sianida akut.
b. Perawatan secara empiris pada keracunan sianida berhubungan dengan
inhalasi.
c. Profilaksis selama infus nitroprusida. d. Ekstravasasi dari mechlorethamin.
e. Ingesti garam bromat 2. Kontraindikasi
Tidak diketahui kontraindikasinya 3. Efek samping
a. Infus intravena dapat menyebabkan rasa terbakar, kejang otot dan gerakan
tiba-tiba, dan mual dan muntah.
b. Penggunaan pada wanita hamil.
Kategori C berdasarkan FDA 4. Interaksi obat
Tiosulfat dapat menurunkan konsentrasi sianida pada beberapa metode
5. Dosis dan cara pemberian
a. Untuk keracunan sianida.
Berikan 12.5 g (50 mL dari 25% larutan) secara IV pada 2.5-5 mL/menit.
Dosis untuk pediatrik sebesar 400 mg/kg (1.6 mL/kg dari 25% larutan) sampai 50
mL. Setengah dosis awal sebaiknya diberikan setelah 30-60 menit bila diperlukan
b. Untuk profilaksis selama infuse nitroprusida.
Tambahan 10 mg tiosulfat pada tiap milligram nitroprusida pada larutan
intravena dikatan dapat menjadi efektif, namun data kompatibilitasnya tidak
tersedia 39
6. Formulasi
Parenteral, sebagai komponen pada paket antidot sianida, sodium tiosulfat,
25% larutan, 50 mL. juga tersedia dalam bentuk ampuldan vial yang berisi 2.5
g/10 mL atau 1 g/10 mL



Asam tiosulfat tidak bisa dibentuk dengan menambahkan asam kedalam tiosulfat karena adanya dekomposisi asam bebas ini di dalam air dalam campuran S, H2S, H2Sn, SO2, dan H2SO4 ini bisa dibuat dengan menhilangkan air, dalam temperature rendah (-780C).
Dalam campuran garam-garam tiosulfat adalah stabil dan berasam. Tiosulfat dibuat dengan mendidihkan alkali atau larutan sulfat nitrat dengan S dan juga oksidasi polisulfida dengan udara .
Natrium tiosulfat pentahidrat (Na2SO2O3.5H2O) disebut dengan hypo berbentuk kristal yang sample benar dan kurang atau tidak berwarna. Titik beku 480C mudah larut dalam air dan larutannya digunakan untuk titrasi dalam analisis volumetri.
Natrium tiosulfat dalam induksi pemutihan untuk merusak Cl2 yang masuk, setelah mereka masuk dalam kolom pemutihan, sama halnya natrium tiosulfat kadang-kadang digunakan untuk memindahkan rasa dari minuman yang berklorinasi.
Natrium tiosulfat (Na2SO3) dapat dibuat dari H2SO4. H2SO4 adalah asam yang sangat penting yang digunakan dalam induksi kimia. H2SO4 mencair pada suhu 10,50C membentuk cairan kental. H2SO4 berikatan dengan hydrogen dan tidak bereaksi dengan logam di dalam air untuk menghasilkan H2. H2SO4 menyerap air dan dapat menghasilkan gas. Ion SO4- adalah tetrahedral, mempunyai panjang ikatan 1,49 Å, mempunyai rantai pendek. Ikatan S – O memiliki 4 ikatan σ antar S dan O dan 2 ikatan π yang didelokalisasi S dan 4 atom O. Asam tiosulfat H2SO3 .tidak dapat dibentuk dengan menambahkan asam ke dalam tiosulfat karena pemisahan asam bebas dalam air ke dalam campuran S, H2S, H2Sn, SO2 dan H2SO3.
H2S + SO3 → H2S2O3
Garam yang biasa disebut tiosulfat stabil dan berjumlah banyak. Tiosulfat dibuat dengan memanaskan alkali/larutan sulfit dengan S dan juga dengan mengoksidasi polisulfida dengan air seperti reaksi berikut :
Na2S2O3 + S → Na2S2O3
2NaS3 + 3O2 → 2Na2S2O3 +2S
Selain itu natrium tiosulfat dapat dibuat dari SO2 dengan reaksi sebagai berikut :
2S02(aq) + O2(g) → SO3(g)
Kemudian direaksikan dengan Na2SO3 dan H2O
reaksi :
2SO2 + Na2CO3 + H2O → 2NaHSO3 + CO2
produk (NaHSO3) direaksikan lagi dengan Na2CO3
reaksi :
2NaHSO3 + Na2CO3 → 2Na2SO3 + CO2 + H2O
terakhir Na2SO3 direaksikan dengan S dengan bantuan pemanasan.
Rekasi :
Na2SO3 + S → Na2S2O3

Sabtu, 09 Oktober 2010

Pembuatan Kalim Dikromat

Kalium Dikromat

Kristal kalium dikromat dapat dibuat dengan mengkombinasikan reaksi yang akan kita lihat pada halaman ini.

Berawal dari sumber ion kromium(III) seperti larutan kromium klorida:

Kamu tambahakan larutan kalium hidroksida untuk menghasilkan endapan hijau-biru dan kemudian larutan hijau tua yang mengandung ion [Cr(OH)6]3- Hal ini akan dijelaskan dengan lebih mendalam pada halaman berikutnya. Harap diperhatikan bahwa kamu harus menggunakan kalium hidroksida. Jka kamu menggunakan natrium hidroksida, maka akan berakhir dengan pembentukan natrium dikromat(VI).

Sekarang kamu oksidasi larutan ini dengan cara memanaskannya dengan menggunakan larutan hidrogen peroksida. Larutan berubah menjadi kuning menunjukkan pembentukan kalium kromat(VI). Reaksi ini juga dijelaskan secara lebih mendalam pada halaman berikutnya.

Semua yang berada pada bagian sebelah kiri mengubah larutan kalium kromat(VI berwarna kuning menjadi larutan kalium dikromat(VI) yang berwarna jingga. Kamu dapat mengingatnya bahwa hal ini terjadi dengan penambahan asam. Hal ini untuk mengingatkan bagian yang telah disebut di atas jika kamu melupakannya.

Sayangnya terdapat sebuah masalah. Kalium dikromat akan bereaksi dengan kelebihan hidrogen peroksida kemudian selanjutnya memberikan prakarsa pada pembentukan larutan biru tua yang tidak stabil dan sejak itu terbentuk ion kromium(III) lagi! Untuk memecahkan masalah ini, kamu terlebih dahulu harus menghilangkan kelebihan hidrogen peroksida.

Hal ini dapat dilakukan dengan mendidihkan larutan. Hidrogen peroksida terdekomposisi pada pemanasan dengan menghasilkan air dan oksigen. Larutan dididihkan sampai tidak terbentuk lagi gelembung gas oksigen yang dihasilkan. Larutan dipanaskan lebih lanjut untuk memekatkannya, dan kemudian asam etanoat pekat ditambahkan untuk mengasamkannya. Kristal kalium dikromat yang berwarna jingga terbentuk melalui proses pendinginan.

Penggunaan kalium dikromat(VI) sebagai agen pengoksidasi pada kimia organik

Larutan Kalium dikromat(VI) yang diasamkan dengan asam sulfat encer biasa digunakan sebagai agen pengoksidasi pada kimia organik. Hal ini beralasan karena larutan kalium dikromat(VI) yang diasamkan dengan asam sulfat encer merupakan agen pengoksidasi yang kuat disamping memiliki kekuatan yang mampu menjadikan senyawa organik menjadi terpotong-potong! (larutan kalium manganat(VII) juga memberikan kecenderungan yang sama).

Larutan Kalium dikromat(VI) yang diasamkan dengan asam sulfat encer digunakan untuk:
• Mengoksidasi alkohol sekunder menjadi keton;
• Mengoksidasi alkohol primer menjadi aldehid;
• Mengoksidasi alkohol primer menjadi asam karboksilat;
Berikut ini keuntungan dan kerugian dalam penggunaan kalium dikromat(VI).

Keuntungan:
• Kalium dikromat(VI) dapat digunakan sebagai standar primer. Hal ini berarti bahwa kalium dikromat(VI) dapat dijadikan sebagai larutan stabil yang konsentrasinya diketahui dengan tepat. Hal ini tidak terjadi pada kalium permanganat(VII).
• Kalium dikromat(VI) dapat digunakan untuk mendeteksi keberadaan ion klorida (selama ion klorida tidak berada pada konsentrasi yang sangat tinggi).
• Kalium manganat(VII) mengoksidasi ion klorida menjadi klorin; kalium dikromat(VI) tidak benar-benar cukup kuat sebagai agen pengoksidasi. Hal ini berarti bahwa kamu tidak akan mendapatkan reaksi yang tidak diinginkan dengan larutan kalium dikromat(VI).
Kerugian:
• Kerugian yang paling utama adalah pada perubahan warna. Titrasi kalium manganat(VII) menunjukkan dirinya sendiri. Ketika kamu menyertakan larutan kalium manganat(VII) pada reaksi, larutan menjadi tidak berwarna.
Jika kamu menambahkannya terlalu banyak, larutan menjadi merah muda – dan kamu tahu bahwa kamu telah melewati titik akhir. Sayangnya larutan kalium dikromat(VI) berubah menjadi hijau pada saat kamu memasukkannya ke dalam reaksi, dan disana tidak ada jalan yang memungkinkan bagi kamu untuk mendeteksi perubahan warna ketika kamu menuangkan larutan jingga berlebih pada larutan berwarna hijau yang kuat.
Dengan larutan kalium dikromat(VI) kamu dapat menggunakan indikator terpisah, dikenal dengan redox indicator. Warna berubah melalui kehadiran agen pengoksidasi.
Berikut beberapa contoh indikator – seperti difenil sulfonat. Indikator memberikan warna ungu-biru dengan adanya larutan kalium dikromat(VI) yang berlebih. Akan tetapi, warna menjadi lebih sulit diinterpretasikan dengan munculnya warna hijau yang kuat. Titik akhir titrasi kalium dikromat(VI) tidak mudah untuk dilihat seperti titik akhir kalium manganat(VII).
Hazard Symbol
Very toxic
Dangerous for the environment
Oxidising
 Mengidentifikasi Jenis dan Tipe Alat Pemadam Api  




Pengetahuan Dasar Mengenai Kebakaran 
Ungkapan yang paling pas "Sedia Payung sebelum Hujan", Mencegah lebih baik daripada mengobati. Kebakaran merupakan bahaya yang bisa terjadi dengan mudah di pemukiman dan kita pun tidak terlepas dari acaman bahaya kebakaran itu. Mungkin di benak kalian pernah terbayangkan beberapa hal seperti:
1. Bagaimana Api Bisa Terjadi ?
Api merupakan hasil yang timbul dari suatu reaksi kimia antara unsur Oksigen (O2), bahan Bakar dan panas. Ketiganya ini dikenal dengan segitiga api. Panas yang menyebabkan terjadinya api adalah panas dengan tingkat suhu tertentu tergantung bahan yang ada, dan Oksigen adalah unsur yang menyempurnakan terjadinya api. Dengan meniadakan salah satu dari ketiga bahan tersebut maka api akan padam. Untuk tindakan preventif maka kita harus mencegah bertemunya ketiga bahan tersebut.

   
2. Apakah gunanya Alat Pemadam Api ( Fire Extinguisher ) ? 
Pada dasarnya semua kerja dari alat pemadam api adalah membantu untuk meniadakan atau menghilangkan salah satu atau lebih dari segitiga api. Oleh karena itu perlu sekali untuk mempunyai pengetahuan mengenai bagaimana memilih alat pemadam api yang tepat. 

Pemilihan bahan alat pemadam api berdasarkan bahan yang akan diproteksi. Jenis kebakaran pada dasarnya ada 4 yaitu : 
TIPE A : api karena bahan bakar padat
TIPE B : api karena bahan bakar cair 
TIPE C : api karena bahan bakar gas (termasuk listrik)
TIPE D : api karena bahan bakar padat (tipe ini khusus biasanya hanya di industri kimia yang menggunakan logam-logam misalnya Magnesium, Sodium, Potassium, dll. 


ALAT PEMADAM API ( FIRE EXTINGUISHER ) 
KELAS – KELAS API DAN MEDIA PEMADAMANNYA 
KELAS API- KELAS “ A “ ( Api pepejal ) solid fire - Api kayu – Api kertas - Api Sampah - Api kain Air & Debu kering 
KELAS “ B “ ( Api Cecair ) Liquid Fire - Api Minyak - Api Cat - Api Varnish Buih, Debu kering dan Varpourising liquid 
KELAS “ C “ ( Api Wap dan Gas ) Gas & Stim Gas - Butana - Propane - Oxy acetalance - Gas ( LPG ) Debu kering, Karbon Dioksida ( Co2 ) & Varpourising liquid 
KELAS “ D “ ( Api Logam ) Matel Fire - Potaosium - Sodium - Magnesium Soda Ash, Pasir, Debu Kering & Matel serta Powder Api Elektrik 

MODEL – MODEL ALAT PEMADAM API 
1. Halon Free – AF11 
AF11 adalah zat pemadam kebakaran berupa gas cair yang memadamkan api dengan menghentikan reaksi pembakaran. AF11 mempunyai daya padam yang sangat tinggi, tidak berwarna, tidak menyebabkan karat, tidak konduktif serta tahan lama, dan tanpa bekas. Sangat cocok untuk digunakan pada alat – alat komputer, peralatan elektronik, laboratorium, dapur atau rumah makan. Penggunaan untuk kelas “ A “, “ B “, “ C “, dan “ E “ 

2. Chemical Dry Powder ( ABC ) 
Jenis Chemical Dry Powder dengan rumus kimia NaHCO3 atau Natrium Bicarbonate yang memadamkan api dengan cara membentuk lapisan pada bahan yang terbakar sehingga memisahkan udara dengan reaksi kimia, dan juga dapat berfungsi sebagai tirai terhadap panas atau nyala api. 

3. Nitrogen ( N2
Nitrogen berfungsi sebagai alat pendorong yang hampir tidak dipengaruhi oleh kelembaban dan perubahan suhu sekitarnya. Jenis ini sangat tepat digunakan sebagai alat pertolongan pertama, terutama pada kebakaran yang disebabkan oleh minyak ( cairan ) serta kebakaran benda padat dan sejenisnya, termasuk kebakaran listrik dan LPG. 

4. Super Busa ( AFFF )
Jenis Super Busa atau Aqueous Film Forming Foam ( AFFF ). Jenis ini adalah busa mekanik yang paling baik dengan campuran air tawar atau air asin untuk kebakaran yang disebabkan oleh benda padat serta barang cair seperti bensin, oli, thiner, dan lain-lain. Sewaktu disemprotkan karena kebakaran, segera mengembang ke permukaan membentuk suatu lapisan film dan bisa untuk mencegah pembakaran kembali ( Reflash atau reignition ). Air yang merupakan unsur terbesar dari larutan ini bertindak sebagai pendingin. Penggunaan untuk kelas “ A “, “ B “ 

5. Carbon Dioxide Fire Extinguisher atau CO2
CO2 mempunyai daya pemadam yang tinggi dan tanpa meninggalkan bekas. Penggunaan gas CO2 yang sangat cepat menguap dan tanpa meninggalkan bekas setelah pemadaman api, sangat efektif untuk dipergunakan di pabrik-pabrik, mesin-mesin presisi, instalasi listrik, substation, dan lain lain. Daya Pendingin dan penghambat supply oksigen. Karbondioksida ( CO2 ) adalah bahan kimia yang menghasilkan efek penghambat supply oksigen pada benda-benda yang terbakar, dimana bila disemprotkan ke kobaran api, CO2 ini akan mengusir oksigen dari udara dan menutup aliran oksigen ke lingkungan/benda-benda yang terbakar. Disamping itu daya pendinginnya dengan cepat dapat memadamkan api. Sangat baik untuk cairan yang mudah terbakar, komputer, peralatan data processing, laboratorium, dsbnya. Isolasi dari gas CO2 memberi keamanan dalam operasi pemadam kebakaran guna pencegahan terkena aliran listrik atau terambar api dari bahan cair yang mudah terbakar. Penggunaan untuk Kelas “B” , “E” 


CARA MENGGUNAKAN ALAT PEMADAM API 
Terdapat berbagai jenis serta size alat pemadam api. Cara penggunaan atau pengendaliannya adalah seperti berikut : 
1. Pilih jenis alat pemadam api yang sesuai 
2. Ikut arah angin semasa menggunakannya 
3. Praktekkan penggunaan PASS KAEDAH / SISTEM P.A.S.S 
    P – Pull Tarik / cabut pin keselamatan 
    A – Tujukan/Arahkan nozel ke rah puncak api 
    S – Squeeze Tekan pemegang “lever” dimana agen pemadam akan  keluar
    S – Sweep Layangkan nozel / hos kekiri dan ke kanan bagi menyegerakan proses pemadaman 



    Berdasarkan apa yang sudah dituliskan di atas maka beberapa hal yang kita dapatkan yaitu pemadam api adalah alat yang digunakan untuk memadamkan api dalam sebuah kebakaran kecil. Pemadaman api tidak dirancang untuk digunakan pada kebakaran yang sudah tidak terkontrol, misalnya ketika api sudah membakar langit-langit. Umumnya pemadam api terdiri dari sebuah tabung tekanan tinggi yang berisi cairan pemadam api. Pemadam api terbagi menjadi beberapa jenis: bahan kimia kering ( natrium hidrogen karbonat /ammonium sulfat ) menghilangkan reaksi kimia antara panas, oksigen, dan bahan bakar. Pemadam busa memisahkan oksigen dari bahan bakar. Pemadam menggunakan air menghilangkan api dan panas dari bahan yang terbakar. Pemadam CO2 menghilangkan oksigen yang dipakai oleh pembakaran.





Pertanyaan-pertanyaan yang sering muncul:
1. Jenis Kebakaran yang diakibatkan oleh terbakarnya benda-benda padat ? 
    Jawab : Kebakaran yang disebabkan benda-benda padat adalah kebakaran kelas A 
2. Sebutkan jenis-jenis kebakaran ? 
    Jawab : Jenis kebakaran ada 4, yaitu Kebakaran kelas A : kebakaran yang disebabkan oleh benda-           benda padat seperti : kayu,kertas dan plastik. Kebakaran kelas B : kebakaran yang disebabkan oleh        bahan yang mudah terbakar berupa cair, seperti : minyak tanah, bensin, dan lain-lain. Kebakaran             kelas C : kebakaran yang disebabkan oleh bahan bakar gas, termasuk listrik seperti : Butana,                 propane, dll. Kebakaran kelas D : kebakaran tipe ini khusus biasanya hanya di industri kimia yang         menggunakan logam-logam seperti : magnesium, sodium, potassium. 
3. Jenis bahan apa saja yang hanya ada di industri kimia ? 
    Jawab : Yang ada di industri kimia yaitu jenis logam-logam seperti magnesium, Sodium, potassium,     dll.  
4. Penyebab kebakaran kelas B ? dan cara penanggulangannya ? 
    Jawab : Penyebab kebakaran kelas b dari bahan bakar cair seperti : alcohol, Spirtus, minyak tanah,        bensin dll. Cara penanggulangannya dengan menggunakan debu kering, Buih dan Varpoursing                liquid.
5. Apa yang di maksud Alat Pemadam Api ? 
    Jawab : Alat pemadam api adalah alat yang di gunakan untuk memadamkan api dalam sebuah                kebakaran kecil. 
6. Sebutkan bahan-bahan yang menyebabkan kebakaran ? 
    Jawab : - Oksigen - Bahan bakar - Panas 
7. Contoh dari bahan bakar kelas A ! 
    Jawab : bahan padat seperti : kayu, kertas, plastik. 
8. Sebutkan contoh dari bahan bakar kelas B ! Jawab : contohnya : minyak tanah, bensin, alcohol dan        spirtus 
9. Sebutkan contoh dari bahan bakar kelas C !
    Jawab : contohnya : butane, propane, oxy Acetalane. 
10. Contoh dari bahan bakar kelas D ! 
      Jawab : dari bahan logam seperti magnesium, potassium, sodium    



Semoga bermanfaat ya.